Retatrutide dari Eli Lilly: Triple Agonist Pertama di Dunia Turunkan A1C 2% dan Berat Badan 17% dalam Uji Klinis Fase 3

Retatrutide dari Eli Lilly adalah triple agonist GLP-1/GIP/glukagon pertama di dunia. Uji klinis Fase 3 TRANSCEND-T2D-1 menunjukkan penurunan A1C hingga 2% dan berat badan 16,8% dalam 40 minggu.

Kantor pusat Eli Lilly and Company di Indianapolis, Indiana. Foto: Wikimedia Commons.

Diterjemahkan dari siaran pers resmi Eli Lilly and Company, 19 Maret 2026. Baca siaran pers asli →

Bayangkan sebuah obat yang bisa menurunkan gula darah dan berat badan secara bersamaan — dua hal yang selama ini menjadi perjuangan terbesar bagi penderita diabetes tipe 2. Selama bertahun-tahun, pasien dihadapkan pada pilihan yang tidak ideal: obat diabetes yang justru menaikkan berat badan, atau upaya diet yang tidak cukup mengontrol gula darah.

Kini, Eli Lilly — perusahaan farmasi raksasa asal Indianapolis yang juga menciptakan Mounjaro (tirzepatide) — mengumumkan terobosan baru: retatrutide, molekul triple agonist pertama di kelasnya yang secara bersamaan mengaktifkan tiga reseptor hormon sekaligus. Dan hasil uji klinis Fase 3 pertamanya sangat mengesankan.

Apa Itu Retatrutide?

Jika Anda sudah familiar dengan Ozempic (semaglutide) yang bekerja pada satu reseptor (GLP-1), atau tirzepatide yang bekerja pada dua reseptor (GLP-1 dan GIP) — maka retatrutide membawa konsep ini selangkah lebih jauh.

Retatrutide adalah agonis triple hormon yang mengaktifkan tiga reseptor sekaligus:

  1. GLP-1 (glucagon-like peptide-1) — menekan nafsu makan dan meningkatkan sekresi insulin
  2. GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide) — bekerja sinergis dengan GLP-1 untuk kontrol gula darah dan metabolisme lemak
  3. Glukagon — meningkatkan pengeluaran energi dan pembakaran lemak

Penambahan reseptor glukagon inilah yang menjadi kunci pembeda. Sementara GLP-1 dan GIP menekan nafsu makan dan memperbaiki metabolisme glukosa, glukagon meningkatkan pengeluaran energi — artinya tubuh membakar lebih banyak kalori bahkan saat istirahat. Kombinasi tiga mekanisme ini menciptakan efek penurunan berat badan yang belum pernah terlihat sebelumnya pada kelas obat GLP-1.

Seperti Ozempic dan Mounjaro, retatrutide diberikan melalui suntikan sekali seminggu. Obat ini masih dalam tahap investigasi dan belum disetujui oleh badan regulasi manapun.

Hasil Uji Klinis TRANSCEND-T2D-1: Angka yang Berbicara

Eli Lilly baru saja mengumumkan hasil positif dari TRANSCEND-T2D-1, uji klinis Fase 3 pertama retatrutide untuk diabetes tipe 2. Studi ini melibatkan 537 peserta dewasa dengan diabetes tipe 2 yang gula darahnya tidak terkontrol dengan diet dan olahraga saja.

Para peserta memiliki rata-rata durasi diabetes 2,5 tahun dan A1C awal 7,9%. Mereka dibagi secara acak ke dalam empat kelompok: retatrutide 4 mg, 9 mg, 12 mg, atau plasebo, selama 40 minggu.

Penurunan A1C (Gula Darah)

Kelompok Penurunan A1C (Efficacy Estimand) Penurunan A1C (Treatment-Regimen Estimand)
Retatrutide 4 mg -1,7% -1,7%
Retatrutide 9 mg -2,0% -1,9%
Retatrutide 12 mg -1,9% -1,9%
Plasebo -0,8% -0,8%

Untuk konteks, penurunan A1C sebesar 2,0% dari baseline 7,9% sangat signifikan secara klinis. Ini berarti rata-rata peserta yang menggunakan retatrutide 9 mg mencapai A1C sekitar 5,9% — di bawah ambang batas diagnosis diabetes (6,5%). Sebagai perbandingan, obat GLP-1 generasi sebelumnya seperti semaglutide biasanya menurunkan A1C sekitar 1,0-1,8%.

Penurunan Berat Badan

Kelompok Penurunan BB (%) Penurunan BB (kg) Penurunan BB (lbs)
Retatrutide 4 mg -11,5% -11,1 kg -24,5 lbs
Retatrutide 9 mg -15,5% -15,1 kg -33,3 lbs
Retatrutide 12 mg -16,8% -16,6 kg -36,6 lbs
Plasebo -2,5% -2,8 kg -6,2 lbs

Yang paling menarik: tidak ada plateu (dataran tinggi) penurunan berat badan yang teramati — peserta terus kehilangan berat badan hingga akhir periode pengobatan 40 minggu. Ini mengisyaratkan bahwa penurunan berat badan bisa lebih besar lagi jika pengobatan dilanjutkan lebih lama.

Sebagai perbandingan, dalam uji klinis Fase 2 retatrutide sebelumnya pada populasi obesitas (tanpa diabetes), penurunan berat badan mencapai hingga 24,2% dalam 48 minggu. Angka ini menjadikan retatrutide sebagai salah satu obat anti-obesitas paling potensial yang pernah diuji.

Mengapa Ini Penting bagi Pasien Diabetes Tipe 2?

Seperti yang disampaikan Kenneth Custer, Ph.D., Executive Vice President Eli Lilly bidang Cardiometabolic Health:

"Bagi banyak penderita diabetes tipe 2, mencapai kontrol A1C dan penurunan berat badan secara bersamaan adalah perjuangan, karena obesitas secara historis lebih sulit ditangani pada mereka yang memiliki diabetes tipe 2."

Ini bukan sekadar retorika perusahaan — ini adalah kenyataan klinis yang dialami jutaan pasien. Indonesia diproyeksikan memiliki 40,7 juta penderita diabetes pada tahun 2045, dan sebagian besar di antaranya juga mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Obat yang bisa menangani kedua kondisi ini sekaligus bisa mengubah lanskap perawatan diabetes di Indonesia secara fundamental.

Selain A1C dan berat badan, retatrutide juga menunjukkan perbaikan bermakna pada faktor risiko kardiovaskular, termasuk kolesterol non-HDL, trigliserida, dan tekanan darah sistolik — temuan yang sejalan dengan bukti perlindungan jantung dari obat GLP-1 lainnya.

Profil Keamanan dan Efek Samping

Seperti obat GLP-1 lainnya, efek samping yang paling umum bersifat gastrointestinal dan terjadi terutama selama fase eskalasi dosis:

Efek Samping Retatrutide 4 mg Retatrutide 9 mg Retatrutide 12 mg Plasebo
Mual 16,4% 19,5% 26,5% 3,7%
Diare 18,7% 26,3% 22,8% 4,5%
Muntah 15,7% 15,0% 17,6% 2,2%
Disestesia 4,5% 2,3% 4,4% 0,0%

Satu efek samping yang perlu diperhatikan adalah disestesia (sensasi abnormal seperti kesemutan atau terbakar) yang terjadi pada sekitar 2-5% peserta — efek ini tidak umum ditemukan pada obat GLP-1 sebelumnya. Namun, kejadian ini umumnya ringan dan sebagian besar membaik selama pengobatan berlanjut.

Tingkat penghentian pengobatan akibat efek samping relatif rendah: 2,2% (4 mg), 4,5% (9 mg), dan 5,1% (12 mg), dibandingkan 0% pada plasebo. Jika Anda khawatir tentang efek samping GLP-1, baca panduan lengkap kami tentang cara mengatasi mual saat pakai obat GLP-1.

Di Mana Posisi Retatrutide dalam Lanskap Obat GLP-1?

Untuk memahami betapa signifikannya retatrutide, mari kita bandingkan dengan obat GLP-1 lainnya:

Obat Mekanisme Penurunan BB Penurunan A1C Status
Semaglutide (Ozempic) GLP-1 ~15% (Wegovy 2,4 mg) ~1,5-1,8% Disetujui
Tirzepatide (Mounjaro) GLP-1 + GIP ~20-22% ~2,0-2,3% Disetujui
Retatrutide GLP-1 + GIP + Glukagon ~17% (diabetes) / ~24% (obesitas) ~2,0% Fase 3 (investigasi)
Brenipatide (Eli Lilly) GLP-1 + GIP (bulanan) Belum tersedia Belum tersedia Fase 2-3

Pola evolusinya jelas: dari agonis tunggal (semaglutide), ke agonis ganda (tirzepatide), kini ke agonis triple (retatrutide). Setiap generasi menunjukkan efektivitas yang lebih besar. Baca lebih lanjut tentang obat GLP-1 generasi baru 2025-2026 yang sedang dalam pengembangan.

Uji Klinis Retatrutide Lainnya yang Sedang Berjalan

Eli Lilly tidak hanya menguji retatrutide untuk diabetes. Program klinis TRANSCEND mencakup beberapa indikasi:

  • Obesitas dan kelebihan berat badan dengan masalah medis terkait
  • Osteoartritis lutut
  • Sleep apnea obstruktif sedang-berat — kondisi yang juga sedang diteliti dengan semaglutide
  • Nyeri punggung bawah kronis
  • Hasil kardiovaskular dan renal
  • Penyakit hati berlemak (MASLD/MASH) — topik yang kami bahas dalam artikel GLP-1 dan hati berlemak

Program TRANSCEND-T2D sendiri melibatkan lebih dari 2.050 peserta di tiga uji klinis registrasi global, dengan hasil tambahan diharapkan dalam satu tahun ke depan.

Menariknya, Eli Lilly juga sedang mengembangkan Brenipatide — agonis GLP-1/GIP yang diberikan sekali sebulan — yang sedang diuji untuk indikasi psikiatri dan kecanduan. Ini menunjukkan bahwa Eli Lilly sedang membangun portofolio obat inkretin yang sangat luas, melampaui sekadar diabetes dan obesitas.

Apa Artinya untuk Indonesia?

Retatrutide masih dalam tahap investigasi dan belum tersedia secara komersial di negara manapun. Namun, ada beberapa implikasi penting bagi pasien Indonesia:

  1. Harapan baru untuk diabetes tipe 2 yang sulit dikontrol — Dengan proyeksi 40,7 juta penderita diabetes di Indonesia pada 2045, obat yang lebih efektif sangat dibutuhkan.
  2. Efektivitas pada BMI Asia — Studi ini menggunakan cut-off BMI ≥23 kg/m², yang lebih relevan untuk populasi Asia yang memiliki risiko metabolik pada BMI lebih rendah.
  3. Potensi mengatasi penyakit penyerta — Perbaikan pada kolesterol, trigliserida, dan tekanan darah berarti retatrutide bisa mengurangi risiko penyakit kardiovaskular yang menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia.

Sementara menunggu retatrutide tersedia, pasien Indonesia yang memenuhi syarat sudah bisa berkonsultasi dengan dokter tentang opsi GLP-1 yang tersedia saat ini. Baca panduan cara mendapatkan obat GLP-1 di Indonesia untuk informasi lebih lanjut.

Konsultasikan selalu dengan dokter spesialis penyakit dalam (SpPD) atau endokrinologi sebelum memulai pengobatan apapun.

FAQ

Apa perbedaan retatrutide dengan Ozempic dan Mounjaro?

Ozempic (semaglutide) mengaktifkan satu reseptor (GLP-1). Mounjaro (tirzepatide) mengaktifkan dua reseptor (GLP-1 + GIP). Retatrutide mengaktifkan tiga reseptor sekaligus (GLP-1 + GIP + glukagon), yang menghasilkan penurunan berat badan dan gula darah yang lebih besar.

Kapan retatrutide akan tersedia di Indonesia?

Retatrutide masih dalam uji klinis Fase 3. Jika berhasil, proses persetujuan FDA dan BPOM biasanya membutuhkan 1-3 tahun lagi. Perkiraan paling optimis adalah 2028-2029, tetapi ini bisa berubah.

Apakah efek samping retatrutide lebih berat dari Ozempic?

Profil efek samping umumnya serupa dengan obat GLP-1 lainnya (mual, diare, muntah). Satu perbedaan adalah adanya disestesia (sensasi abnormal) pada 2-5% peserta, yang tidak umum pada Ozempic atau Mounjaro. Namun, kejadian ini umumnya ringan.

Berapa penurunan berat badan yang bisa diharapkan dari retatrutide?

Pada pasien diabetes tipe 2, penurunan berat badan mencapai hingga 16,8% (sekitar 16,6 kg) dalam 40 minggu dengan dosis 12 mg. Pada uji klinis Fase 2 untuk obesitas, penurunan mencapai hingga 24,2% dalam 48 minggu.

Referensi

  1. Eli Lilly and Company. "Lilly's triple agonist, retatrutide, demonstrated significant reductions in A1C and weight in first Phase 3 trial for treatment of type 2 diabetes." Siaran Pers, 19 Maret 2026. https://investor.lilly.com/news-releases/news-release-details/lillys-triple-agonist-retatrutide-demonstrated-significant
  2. ClinicalTrials.gov. TRANSCEND-T2D-1 (NCT06354660). https://clinicaltrials.gov/study/NCT06354660

💬 Punya pertanyaan tentang retatrutide, GLP-1, atau pengelolaan diabetes? Hubungi tim Nadi Health — kami membantu Anda memahami pilihan kesehatan metabolik dengan informasi berbasis bukti. Mulai penilaian gratis →