Ilmuwan yang Menemukan GLP-1 Bicara: 30 Tahun Riset dan Masa Depan Ozempic

Kisah 30 tahun perjalanan ilmiah di balik Ozempic: wawasan penemu GLP-1, Dr. Daniel Drucker, tentang otak, obesitas, peradangan, dan masa depan obat revolusioner ini.

Nama Daniel Drucker mungkin belum akrab di telinga kebanyakan orang Indonesia, namun karya ilmiahnya selama tiga dekade telah melahirkan Ozempic — obat yang kini mengguncang dunia medis dan mengubah cara kita memahami obesitas, diabetes, bahkan penyakit jantung. Dalam sebuah wawancara mendalam di podcast Ground Truths bersama Dr. Eric Topol, penemu GLP-1 ini membuka tabir perjalanan panjang yang jarang diketahui publik: dari laboratorium sunyi di Toronto hingga fenomena global yang disebut "revolusi Ozempic."


Siapa Daniel Drucker dan Bagaimana Sejarah GLP-1 Ditemukan?

Dr. Daniel Drucker adalah endokrinologis dari Lunenfeld-Tanenbaum Research Institute, Universitas Toronto, Kanada. Bersama dua koleganya — Joel Habener dari Harvard dan Jens Juul Holst dari Universitas Kopenhagen — ia diakui sebagai salah satu penemu GLP-1 (glucagon-like peptide-1), hormon yang menjadi dasar kerja obat-obatan seperti semaglutide (Ozempic, Wegovy) dan tirzepatide (Mounjaro).

GLP-1 adalah hormon alami yang diproduksi oleh usus bagian bawah, terutama setelah kita makan. Hormon ini merangsang pankreas untuk memproduksi insulin, memperlambat pengosongan lambung, dan memberi sinyal ke otak bahwa tubuh sudah kenyang. Namun, seperti yang akan dijelaskan Drucker, fungsi fisiologis "asli" GLP-1 ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar pengatur gula darah.

Ketika ditanya apakah 30 tahun lalu ia sudah membayangkan ledakan penggunaan obat ini, Drucker menjawab dengan jujur: "Tidak seperti yang kita alami hari ini. Ada visi untuk kisah diabetes, tapi cerita soal penurunan berat badan berkembang sangat lambat."


Perjalanan 30 Tahun: Dari Lab ke Ozempic

Momen penemuan awal GLP-1 difokuskan pada kemampuannya merangsang sekresi insulin — bukan untuk menurunkan berat badan. Obat berbasis GLP-1 pertama untuk obesitas, liraglutide (Saxenda), baru mendapat persetujuan FDA pada 2014. Namun dampaknya terhadap berat badan dinilai kurang spektakuler dibanding apa yang kita saksikan sekarang.

Mengapa butuh begitu lama? Drucker menjelaskan bahwa kunci jawabannya adalah dosis. Pada uji coba awal untuk diabetes tipe 2, dosis yang digunakan hanya menghasilkan penurunan berat badan sekitar 2–3%. Perubahan besar terjadi ketika Novo Nordisk bertanya: bagaimana jika dosisnya ditingkatkan untuk tujuan penurunan berat badan?

Eksperimen itu mengubah segalanya. Liraglutide untuk diabetes menggunakan dosis 1,8 mg per hari; ketika dinaikkan menjadi 3 mg, penurunan berat badan meningkat signifikan. Lompatan lebih besar terjadi dengan semaglutide: dosis untuk diabetes adalah 0,5–1 mg per minggu, tetapi saat dinaikkan menjadi 2,4 mg per minggu (versi Wegovy), dunia menyaksikan penurunan berat badan 15–20% yang belum pernah dilihat sebelumnya dari obat apa pun.

"Itulah saat kita benar-benar mulai melihat penurunan berat badan spektakuler yang sekarang sudah sangat kita kenal," kata Drucker.

Di Indonesia, Ozempic (semaglutide) kini tersedia di beberapa apotek dan fasilitas kesehatan dengan harga berkisar antara Rp 2.617.100 hingga Rp 3.100.942 per pena — angka yang masih jauh dari jangkauan kebanyakan masyarakat.


Bukan Sekadar Obat Perut: Pengaruh GLP-1 pada Otak

Salah satu temuan paling mengejutkan yang dibahas Drucker adalah bagaimana GLP-1 bekerja melalui sumbu usus-otak (brain-gut axis). Sebuah makalah yang diterbitkannya di jurnal Cell Metabolism pada Desember 2023 mengungkap bahwa efek penurunan berat badan dari obat GLP-1 ternyata banyak bekerja melalui sistem saraf pusat — bukan langsung dari usus.

Penjelasannya menakjubkan: obat GLP-1 tidak mudah menembus penghalang darah-otak (blood-brain barrier). Namun ia "berbicara" ke otak melalui neuron-neuron yang dapat diakses di tepi sistem saraf, lalu sinyal itu diteruskan lebih dalam ke pusat-pusat otak yang mengatur nafsu makan, kenyang, dan bahkan kecanduan.

"GLP-1 berbicara ke otak, tapi tidak langsung masuk ke dalam otak dalam skala yang berarti," jelas Drucker. "Ada komunikasi yang belum sepenuhnya kita pahami yang menghasilkan 'keajaiban' yang kita saksikan."

Drucker dan timnya menemukan bahwa neuron-neuron yang mengekspresikan reseptor GLP-1 — ketika diblokir — sepenuhnya menghilangkan kemampuan GLP-1 untuk mengurangi peradangan di seluruh tubuh. Ini mengungkap peran penting sistem saraf dalam efek anti-inflamasi obat ini, jauh melampaui sekadar pengendalian berat badan.


Agonis Ganda dan Triple: Era Baru Obat GLP-1

Dunia farmasi kini berlomba mengembangkan generasi berikutnya. Tirzepatide (Mounjaro/Zepbound) adalah "agonis ganda" yang mengaktifkan dua reseptor sekaligus: GLP-1 dan GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide). Hasilnya? Penurunan berat badan lebih dari 20% dalam uji klinis — melampaui semaglutide.

Yang lebih mengherankan para ilmuwan: Maritide dari Amgen justru memblokir reseptor GIP (berlawanan dengan tirzepatide yang mengaktifkannya), namun menghasilkan penurunan berat badan serupa 15–20%. Drucker mengakui ini adalah misteri ilmiah yang belum terpecahkan: "Saya selalu bercanda bahwa Anda mengundang orang yang salah, karena saya tidak sepenuhnya mengerti bagaimana merekonsiliasi ini."

Melangkah lebih jauh, retatrutide adalah "agonis triple" yang mengaktifkan tiga reseptor: GLP-1, GIP, dan glukagon. Efeknya tampak bahkan lebih kuat lagi — seolah tidak ada batas plateaunya. Di cakrawala lebih jauh, para peneliti sedang mengembangkan:

  • Obat oral (pil) sebagai alternatif suntikan
  • Formula yang cukup disuntik sebulan sekali atau bahkan setahun dua kali
  • "Pabrik sel" berbasis rekayasa genetika yang memproduksi GLP-1 di dalam tubuh
  • Pendekatan terapi gen untuk pengobatan jangka panjang

Efek Samping: Apa yang Perlu Diketahui?

Tidak ada obat yang sempurna. Drucker secara terbuka membahas spektrum efek samping yang telah diamati:

Efek Samping Gastrointestinal

Mual, diare, sembelit, dan muntah adalah efek samping yang paling umum, terutama pada minggu-minggu pertama penggunaan. Kabar baiknya: efek ini umumnya mereda seiring waktu (tachyphylaxis). Peringatan penting: jika seseorang tidak bisa makan atau minum selama 24 jam akibat efek samping, harus segera mencari pertolongan medis karena risiko dehidrasi dan cedera ginjal akut.

Batu Empedu

Kejadian terkait kandung empedu (peradangan, batu, atau sumbatan) terjadi pada sekitar 1 dari beberapa ratus hingga 1 dari seribu pengguna. GLP-1 memang memperlambat motilitas kandung empedu, yang mungkin berkontribusi pada risiko ini.

Kehilangan Massa Otot (Sarcopenia)

Ini adalah perhatian yang semakin besar seiring meningkatnya dosis dan efek penurunan berat badan. Scan DEXA menunjukkan penurunan massa otot, namun sejauh ini belum banyak laporan tentang kelemahan fungsional yang signifikan — seperti sulit bangun dari kursi atau penurunan kapasitas berjalan. Justru sebaliknya: banyak pasien melaporkan bisa lebih aktif bergerak karena berat badan berkurang.

Drucker memperingatkan: "Sangat masuk akal untuk mengharapkan bahwa pada penurunan berat badan 25%, mungkin kita akan melihat beberapa individu dengan sarcopenia klinis." Sejumlah perusahaan farmasi sudah mengembangkan obat pelengkap yang ditujukan untuk mempertahankan massa otot sambil tetap menurunkan lemak.

Densitas Tulang

Kabar baiknya: berdasarkan data dunia nyata yang ada, sejauh ini tidak ada bukti penyakit tulang yang signifikan secara klinis, baik dari segi kepadatan tulang maupun angka patah tulang.


Berhenti Minum Obat: Risiko Rebound Berat Badan

Salah satu pertanyaan paling kritis bagi pengguna: apakah berat badan akan kembali naik jika obat dihentikan?

Drucker memberikan gambaran yang lebih nuansa dari sekadar "ya, pasti naik lagi." Data dari uji klinis tirzepatide (Surmount) menunjukkan hal yang menarik: setelah diberikan tirzepatide selama 38 minggu kemudian dihentikan, satu tahun kemudian lebih dari 40% peserta masih berhasil mempertahankan paling tidak 10% penurunan berat badan — yang sudah cukup untuk memberikan manfaat metabolik yang bermakna.

Namun ada catatan penting: "Untuk manfaat kardiovaskular — mengurangi serangan jantung, stroke, dan penyakit ginjal kronis — tidak ada bukti bahwa Anda bisa berhenti minum obat dan tetap mendapatkan manfaat tersebut."

Artinya, pengelolaan terapi ini membutuhkan pendekatan yang sangat personal: apa tujuan utamanya? Menurunkan berat badan saja? Atau mencegah komplikasi jantung dan ginjal jangka panjang? Jawabannya menentukan apakah seseorang perlu mengonsumsi obat ini seumur hidup.


Peradangan sebagai Benang Merah

Mungkin temuan paling revolusioner dari penelitian Drucker adalah teori pemersatu ini: efek anti-inflamasi GLP-1 mungkin menjelaskan hampir semua manfaatnya.

Penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, penyakit hati berlemak, Alzheimer, Parkinson — semua ini memiliki komponen peradangan kronis. Dan GLP-1 tampaknya bekerja pada semuanya. Yang menakjubkan, biomarker peradangan sudah turun bahkan sebelum ada penurunan berat badan yang signifikan dalam uji klinis kardiovaskular.

Drucker berbagi laporan-laporan mengejutkan yang ia terima dari pasien di seluruh dunia: "Orang-orang mengirimkan foto tangan mereka — penderita artritis kronis — dan berkata, 'Tangan saya belum pernah tampak sebaik ini sejak mulai mengonsumsi obat ini.' Ada yang mengatakan brain fog pasca-Covid mereka membaik. Ada yang sudah bertahun-tahun menderita kolitis ulseratif dengan biologic, tiba-tiba masuk remisi."

Ini baru laporan anekdotal, namun konsistensinya mengarah pada mekanisme anti-inflamasi yang nyata dan powerful — bahkan mungkin lebih kuat dari efek anti-inflamasi statin.


Kecanduan, Rokok, Alkohol: Batas Baru?

Salah satu area penelitian yang paling mencuri perhatian adalah potensi GLP-1 dalam mengatasi kecanduan. Ada lebih dari 100 studi pada hewan yang menunjukkan perbaikan perilaku adiktif — termasuk ketergantungan alkohol, nikotin, dan kokain. Di media sosial, banjir laporan dari pengguna yang tiba-tiba kehilangan keinginan minum alkohol atau merokok.

Namun Drucker berhati-hati: uji klinis acak pada manusia sejauh ini hasilnya kurang mengesankan. Uji coba pada gangguan penggunaan alkohol dan merokok belum menunjukkan bukti kuat. Meski ada temuan menarik — dalam satu uji coba merokok, peserta dilaporkan minum lebih sedikit alkohol sebagai efek sampingan.

"Dalam 12 hingga 24 bulan ke depan, kita akan mulai belajar apakah ini efek nyata yang terlihat pada banyak orang, atau hanya anekdot," kata Drucker. Puluhan uji klinis sedang berjalan untuk nikotin, kokain, ganja, dan berbagai perilaku kompulsif lainnya.


Masalah Akses dan Keadilan: Siapa yang Bisa Menikmati?

Di sinilah percakapan mengambil nada yang lebih serius. Drucker, berbicara sebagai "dokter non-farmasi", secara tegas mengangkat isu ketidakadilan akses:

"Ada ratusan juta orang di negara-negara berkembang yang juga menghadapi penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan penyakit ginjal kronis. Kita perlu mulai berdiskusi — seperti yang kita lakukan untuk HIV, hepatitis, dan vaksin Covid — bagaimana membantu orang-orang di bagian lain dunia yang mungkin tidak memiliki akses ke obat-obatan ini."

Ini sangat relevan untuk Indonesia. Dengan harga Ozempic yang masih berada di kisaran Rp 2,6 juta hingga Rp 3,1 juta per pena dan belum masuk dalam tanggungan BPJS Kesehatan, obat revolusioner ini masih jauh dari jangkauan sebagian besar penduduk Indonesia yang justru menanggung beban obesitas dan diabetes tipe 2 yang terus meningkat.

Drucker menyerukan kolaborasi antara perusahaan farmasi, WHO, dan yayasan-yayasan global untuk menciptakan jalur akses yang lebih merata — terutama saat obat oral dan formula jangka panjang mulai tersedia dan harganya diperkirakan turun.


Masa Depan: Dari Mana Kita Pergi dari Sini?

Ketika Topol bertanya apakah suatu hari nanti sebagian besar orang akan mengonsumsi obat GLP-1 untuk mencegah berbagai penyakit kronis — bahkan tanpa diagnosis obesitas atau diabetes — Drucker memberi jawaban yang khas ilmuwan: "Hari ini kita belum punya datanya. Saya tidak akan menuangkannya ke air minum dulu."

Namun ia tidak menutup kemungkinan itu. Dengan uji klinis yang sedang berjalan untuk Alzheimer, Parkinson, penyakit arteri perifer, dan bahkan proses penuaan, gambaran besar yang muncul adalah obat kelas ini mungkin menjadi salah satu intervensi kesehatan paling luas jangkauannya yang pernah dikembangkan manusia.

Pesan terakhir Drucker untuk komunitas ilmiah dan pembuat kebijakan: "Ini adalah kisah hebat tentang ilmu pengetahuan dasar dan bench to bedside. Tidak ada satu pun dari kami yang bisa memprediksi sepenuhnya hasil yang kita bicarakan hari ini. Itulah mengapa kita perlu mendanai sains penemuan — manfaatnya tidak pernah terlihat segera, tapi ketika datang, dampaknya luar biasa."


Sumber & Referensi

  • Dr. Daniel Drucker, co-penemu GLP-1, Lunenfeld-Tanenbaum Research Institute, Universitas Toronto, Kanada
  • Dr. Eric Topol, Founder & Director, Scripps Research Translational Institute; penulis newsletter Ground Truths
  • Wawancara asli (podcast + transkrip): Ground Truths Podcast — Daniel Drucker: Illuminating the GLP-1 Story (April 2024)
  • Drucker DJ et al., "Brain-gut axis and GLP-1 anti-inflammatory mechanisms," Cell Metabolism, Desember 2023

Artikel ini diadaptasi dari transkrip podcast Ground Truths oleh tim editorial Nadi Health. Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan saran medis profesional.

💬 Punya pertanyaan lain? Kunjungi Halaman FAQ Lengkap kami dengan 65+ jawaban tentang Ozempic dan GLP-1.